Trending
Loading...
Wednesday, February 29, 2012

Lagi-lagi Polisi Jadi Artis

1330049248818374879
Bripda Saeful Bahri dan Briptu Eka/Admin (Facebook Fanpage)
Kehebohan baru muncul di jejaring sosial. Seorang polisi berpangkat Bripda, Saeful Bahri menjadi pergunjingan menarik diantara kaum hawa karena kegantengannya. Kalau dahulu Briptu Norman Kamaru (sekarang sudah keluar dari kepolisian) terkenal lewat lipsinc-nya di You Tube maka Bripda Saeful Bahri terkenal lewat Twitter. Sebelumnya ada juga seorang polisi wanita (polwan) cantik, Briptu Eka yang kedapatan jepretan kamera di jalan saat bertugas juga menjadi perbincangan seru di Kaskus.
Kalau mantan polisi Briptu Norman Kamaru terangkat namanya karena kemampuannya menyanyi dan berchayya – chayya ala Sahrukh Khan, maka Briptu Eka dan Bripda Saeful Bahri terkenal karena kecantikan dan ketampanannya. Tadi siang di kantor, seorang teman bertanya apa pendapat saya tentang kegantengan Saeful Bahri. Meski saya tidak berminat untuk menjawabnya, untuk tidak tersinggungnya teman tersebut, akhirnya saya jawab juga, “iya ganteng sih, ganteng.  Tapi apa perlunya kegantengan itu dihebohkan. Kayak tidak ada berita lain saja”.
Ini sebenarnya gejala sosial apa ?. Apakah mungkin masyarakat sudah sangat muak dengan berita - berita politik dan korupsi yang sepertinya tiada ujungnya. Sepertinya begitu banyak permainan dan sandiwara didalamnya, dimulai dari ruang diskusi publik, di ruang rapat wakil rakyat sampai di ruang pengadilan yang ketika ditonton oleh masyarakat malahan bikin ribet, tak menyelesaikan persoalan, tidak menginspirasi dan malahan menambah beban pikiran. Daripada pusing dengan itu semua mending nonton Kabar kabari, Silet, Waswas, Insert, Kiss, dan tayangan infotainment lainnya.
Orang yang tidak mau pusing dicecoki pikirannya dengan masalah politik, hukum dan ekonomi itu kemudian mencari “kesenangan baru” yang lebih rileks. Orang – orang ini yang umumnya berasal dari kalangan urban kota dan masyarakat pedesaan yang berkembang lalu mencari—semacam idola baru—di situs jejaring sosial yang sudah mewabah beberapa tahun terakhir ini. Kesenangan banyak orang di dunia maya  tersebut ikut difasilitasi oleh infotainmen dan menjadi kehebohan tersendiri ditengah masyarakat. Masyarakat kemudian senang karena bisa saling menertawakan “kebodohan” masing – masing, menjadi semacam hiburan yang menyegarkan, Norman Kamaru, Keong Racun, Ayu Tinting, Udin Sedunia, sampai Bripda Saeful Bahri adalah contoh - contohnya.
Yang terakhir ini, menghebohkan kegantengan memang sedikit aneh. Sebenarnya mengeksploitasi kegantengan dan kecantikan jauh lebih dulu dilakukan oleh produser dan sutradara sinetron. Coba saja lihat sinetron yang ada, meskipun ceritanya tidak menarik dan berputar – berputar tetap saja digemari karena dibintangi oleh artis – artis cantik dan ganteng. Apa yang salah dengan kegantengan atau kecantikan artis – artis, baik penyanyi maupun pemain sinetron sehingga masyarakat harus menggilai kegantengan lain diluar dunia entertainment.
Di panggung artis, coba pikir kurang ganteng apa seorang Dude Herlino, Gunawan, Raffi Ahmad, Indra Brugman, Afgan, Teuku Ryan, Teuku Wisnu, Rizki Aditya, Nicholas Saputra, dan yang lainnya sehingga masyarakat khususnya kaum hawa masih mencari sosok ganteng lain di luar dunia artis. Coba pikirkan kurang cantik apa seorang Syahrini, Luna Maya, Aura Kasih, Nikita Willy, Carissa Puteri, Cinta Laura, dan yang lainnya sehingga masyarakat khususnya kaum Adam masih mencari sosok cantik lain seperti Briptu Eka. Lalu, di panggung politik, coba pikir kurang ganteng apa seorang Nazaruddin, Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng, dan bahkan Presiden kita sendiri,  SBY adalah sosok yang ganteng.
Apa yang salah dengan kegantengan dan kecantikan mereka sehingga tak bertahan lama diidolakan, bahkan ada diantaranya tak layak diidolakan. Beberapa yang lainnya lagi malahan dihujat dan fotonya dibakar. Politisi Partai Demokrat yang kini tersangkut kasus Wisma Atlet, Angelina Sondakh.  Jangan tanyakan lagi kurang cantik apa, lha yang ini mantan Puteri Indonesia tapi toh kecantikannya tak menolongnya untuk sekedar sedikit mendapatkan simpati dan empati.  Ya, suatu saat akan terbongkar pada waktunya, sesuatu dibalik kecantikan itu.  Dilihat dari kacamata psikologi sosial, kita baru tersadar bahwa masyarakat kita memang haus akan hadirnya idola – idola baru yang segar.
Fenomena idola baru dengan hadirnya Bripda Saeful Bahri dan Briptu Eka bukan semata soal kegantengan atau kecantikan. Umumnya masyarakat memang sudah muak dan bahkan bosan dengan wajah – wajah lama yang meskipun ganteng dan cantik tapi bermasalah soal kerja, kepribadian, dan tingkah laku. Dengan kata lain, “Buat apa mengidolakan seorang ganteng terkenal, kaya dan berkuasa, kalau orangnya sudah tidak mampu menyelesaikan persoalan, koruptor lagi !.  Jadi, mending mengidolakan seorang ganteng miskin dan berpangkat rendah tapi simpatik dan sedikit bisa menunjukkan empati”. Nah Lho. (*)

0 komentar:

Post a Comment

Nah apa komentar anda?

Copyright © 2012 PRONITY All Right Reserved
Designed by YudhizUlb
Back To Top