Trending
Loading...
Wednesday, February 26, 2014

Bukan Salah Waktu

Bukan Salah Waktu
(BUKAN based on true story tawwa)

Dari sepuluh menit yang lalu gadis itu duduk menyilangkan kaki sambil memandang seorang laki-laki yang sedang asyik bermain sepakbola dengan teman-temannya, di jam istirahat sekolah. Bukan kali ini saja, ini sudah menjadi ritual rutinnya saat jam istirahat. Namanya Nika, gadis kelas 3 SMP. Dan laki-laki yang tiap hari dipandangnya adalah Iman, juga kelas 3, cuma beda kelas dengannya.
“Sampai kapan ko pandang trus itu Iman, Nik?” Ana, temannya tiba-tiba merangkulnya dan duduk di sebelahnya.
“Sampai tidak bisa ka melihat.” Nika masih terus senyum-senyum sendiri.
“Lebay ko deh. Tanya mi saja langsung, 3 tahun mi, mau ko sampai kapan? Kalau lulus meki nanti susah meko itu.”
Nika hanya tersenyum, tak mengeluarkan suara, tapi hanya menyimpan suara itu di dalam. Susah… laki-laki yang memilih, perempuan yang dipilih. Umpatnya dalam-dalam, dalam hatinya.
***
Siang saat perpisahan kelas 3. Iman sedang mendengarkan sambutan kepala sekolah. Sementara di kursi yang berjarak 5 meter dari kursinya sedang duduk gadis yang sedang khusyuk memandangnya. Ya, tentu saja Nika.
Andai saya laki-laki, tidak sesulit ini menyukai seseorang. Nika terus mengumpat dalam hatinya, seolah ada obrolan internal antara dia dan dirinya. Jadi seorang secret admirer itu susah, yah?” Tanyanya pada dirinya yang lain.
***
Hari pertama Masa Orientasi Sekolah di SMA, Nika terlambat datang. Ia yang risih dengan atribut MOS yang dikenakannya diarahkan ke barisan siswa baru yang terlambat oleh panitia. Alangkah kagetnya dia, tepat di depannya berdiri Iman, laki-laki yang sejak kelas 1 SMP disukainya. Tak direncanakan, tak diketahui sebelumnya, dan tentu saja tak ia duga. Mereka lagi-lagi satu sekolah.
Hari pertama MOS selesai, pun hari kedua, Nika masih terus melakukan aktivitas rutinnya, jika ada kesempatan. Sampai akhirnya hari penutupan MOS. Nandi, seniornya di sekolah itu memanggilnya ke kantin.
“Kenapa kak?”
“Kita tau kenapa lebih sering ka‟ masuk di kelas ta‟ waktu MOS daripada kelas-kelas lain dek?” Nandi menembakkan pertanyaan intronya beberapa detik setelah pertanyaan Nika.
Nika menggeleng kebingungan.
“Kita ji mau saya liat terus, tidak ada kayak kita di kelas-kelas lain. 3 hari ka tunggu selesai ini MOS, supaya bisa ka tanya langsung ki.”
“Masa 3 hari ji langsung kita suka ka kak? Tidak salah jeki? Belum peki kenal ka mungkin jadi kita suka ka.” Nika tersenyum, hanya itu yang bisa ia katakan.
“Tidak cukup 1 menit saya suka ki dek. Justru lama sekali itu 3 hari. Kalau mau ki jadi pacarku bisa meki kenal ka juga, saya juga begitu.”
Nika menunduk. Laki-laki yang memilih, perempuan yang dipilih. Kalimat itu tetiba bersuara di kepalanya. Otaknya memerintahkan mulutnya untuk berkata „ya‟, tapi hatinya sekuat tenaga melarangnya.
“Bisa ki kasi ka waktu seminggu kak? Supaya lebih kita kenal ka, saya juga begitu.” Nika bimbang, tak mau keputusannya salah.
***
“Katanya 1 sekolah ko sama Iman.” Ana mengatakan itu di tengah obrolan mereka tentang sekolah baru masing masing, di suatu sore, di rumah Nika.
Nika hanya berdehem, menundukkan kepala.
“Kenapa? Bagus toh?”
“Bukan itu masalahnya An. Ada kakak kelas yang tembak ka.”
“Jadi mau kamu terima? Bagaimana dengan Iman?”
“Mau sekali ka tolak i An. Tapi tidak ada juga yang bisa ditunggu dari Iman. Harus rasional An. Laki-laki yang memilih, perempuan yang dipilih. Itu ji.”
“Tapi perempuan harus memilih Nik. Setelah perempuan dipilih sama laki-laki, dia juga harus memilih. Mau dipilih sama itu laki-laki atau tidak.”
“Sudah meka memilih An.” Nika tersenyum, (sepertinya) terpaksa.
“Jadi pacaran meko?”
“Belum, minta ka waktu seminggu. Mudah-mudahan serius ji juga kak Nandi sama saya.”
***
Senin pagi, upacara pertama semester awal di sekolah. Nika mendapat tugas dari guru untuk membacakan teks Pancasila. Di barisan peserta upacara, Iman asyik membicarakan hal-hal yang tidak penting dengan Resnu, teman barunya. Mulai dari obrolan mereka tentang guru-guru yang juga sibuk ngobrol. Aturan siswa yang harus berdiri tegap sementara guru-guru berdiri dengan santai. Banyak. Sampai saat Nika mulai membacakan teks Pancasila. Iman yang dari janin sampai umur 16 tidak pernah memperhatikan pembacaan teks Pancasila, kini tanpa ia sadari memperhatikannya. Bukan karena Pancasila yang sakral jika dibacakan, tapi karena suara yang membacakannya.
“Siapa itu yang baca Pancasila Res?” Iman menanyakannya ke Resnu tanpa mengalihkan pandangannya dari Nika. Ia memang tidak kenal dengan Nika sewaktu SMP.
“Haalllaa, ko suka sih?”
“Bah, tertarik ka sama suaranya, orangnya juga. Baru ka ini suka sama cewek bro.”
“Dekati nanti kalo selesai upacara. Tunggu waktunya, baru tembakkan mi pelurumu. Gampang toh?”
“Susah bro, tidak pernah ka dekati cewek sebelumnya.”
“Haha, pake surat ko pale.”
“Betul, tapi mainstream. Bagus mungkin kalo video, bantu ka buat i Res nah!”
Resnu hanya tersenyum, memberikan tanda persetujuan.
***
Iman mulai mencari tahu tentang Nika melalui teman-temannya. Mulai dari menanyakan namanya sampai sekolah asal. Dari situ juga dia baru tahu kalau Nika satu sekolah dengannya sewaktu SMP.
Pengambilan gambar juga telah dimulainya dengan dibantu Resnu. Beberapa hari prosesnya, sampai akhirnya malam pengeditan video itu tiba.
Ini mi peluruku, siap ditembakkan. Iman berkata sendiri di depan laptopnya yang sementara melakukan proses rendering pada Adobe Premire. Beberapa menit dia menunggu, lalu memburning file video itu ke sebuah CD.
Iman terus senyum-senyum sendiri sambil menatap CD yang dipegangnya. Lalu memikirkan cara untuk memberikan CD itu ke Nika besoknya.
***
Di sebuah dudukan taman sekolah saat jam istirahat, Nika duduk sendiri. 20 meter di belakangnya Iman berjalan menghampirinya. Pelan sekali jalannya karena grogi. Tapi langkahnya terhenti saat Nandi tiba-tiba duduk di sebelah Nika. Iman berbalik, berlari ke kelasnya.
Sementara di taman itu Nandi mulai berbicara ke Nika. “Seminggu mi, pu…”
Belum selesai Nandi bicara, Nika memotongnya. “Iya.” Nika tersenyum, lalu memegang tangan Nandi.
Di pojok kelas, Iman duduk di lantai sambil memeluk lemas kedua lututnya.
“Ditolak ko?” Resnu duduk di sebelah Iman.
“Hampir. Ada pacarnya.”
Resnu hanya merangkul Iman, tak mau mengeluarkan kalimat yang mungkin saja tambah menyedihkan Iman.
***
Hampir 2 tahun kejadian itu telah lewat. Nika masih berhubungan dengan Nandi, tapi bukan hubungan namanya kalau tak ada badai. Nandi bahkan sudah tahu kalau Nika menyukai Iman. Waktu itu bahkan Nandi ingin mengakhiri hubungannya,
tapi Nika tetap ingin mempertahankan hubungan mereka. Di sisi lain, Iman masih sendiri, masih menyukai Nika. Perasaan yang tidak diketahui oleh Nika.
Saat acara maulid 2014 di sekolah, Resnu yang waktu itu sudah kelas 2 dan aktif di OSIS mendapatkan tugas sebagai operator laptop yang tersambung langsung di layar. Tapi ia tak menjalankan tugasnya sebagai panitia yang baik. Saat ia akan memutar video tentang ucapan-ucapan selamat maulid dari guru-guru, ia malah memutar video yang dibuat Iman untuk Nika dulu. Ia hanya ingin menjadi sahabat yang baik, meski Iman tak pernah menyuruhnya.
Layar yang disaksikan oleh hadirin acara maulid itu mulai menampilkan video Iman. Orang-orang bingung, termasuk siswa dan apalagi guru-guru.
“Hee, apa itu? Matikan!” Salah satu guru yang bertanggungjawab atas kegiatan itu memarahi Resnu.
“Biarkan saja Pak.” Kepala sekolah dengan santai mengatakannya, lalu kembali menyaksikan layar. “Dasar anak muda, rasanya mau kembali sekolah” katanya lagi, tapi sangat pelan, hanya berbicara sendiri.
Hingga selesai video itu. Kepala sekolah berdiri dan bertepuk tangan. Yang lain mengikutinya, melakukan hal yang sama. Semua, kecuali 3 orang, Iman, Nika, dan Nandi.
Kepala sekolah naik ke atas panggung, “Mana yang namanya Iman sama Nika?”
Semua orang sudah duduk. Di kursi paling belakang, Iman berdiri. Beberapa meter di depannya Nika juga berdiri.
“Tadi saya sudah kasi kesempatan untuk Iman. Sekarang lanjutkan di luar saja, yah. Karena acara juga mau dilanjutkan.” Kepala sekolah tersenyum ke arah Iman, senyum yang meyakinkan.
“Kak…” Nika bertanya ke Nandi yang duduk di sebelahnya.
Nandi tak berkata apa-apa, hanya mengangguk dan tersenyum. Seolah mengisyaratkannya ke luar dan juga… akhir dari hubungan mereka.
Nika dan Iman keluar, yang lain tepuk tangan. Kali ini semua, termasuk Nandi. Acara kembali di mulai.
Di luar, mereka berdua berdiri. Tak ada percakapan untuk beberapa menit.
“Maaf…” Iman mematahkan keheningan.
“Kenapa?”
“Mungkin malu ki karena itu tadi video, atau mungkin marah pacar ta.”
Nika tersenyum, “Kalu soal cinta, masih ada kah istilah malu? Tidak marah ji juga kak Nandi, tidak sama meka.”
“Jadi?” Iman mengatakannya dengan kecepatan tinggi, refleks.
Nika tersenyum. Iman lalu memegang tangannya. Adegan itu seolah dilakukan secara slow motion. Mereka terus bertukar senyum paling indah yang mereka miliki. Degup jantung mereka juga balapan, entah siapa yang menang. Juga cinta mereka, entah cinta siapa yang menang. Mungkin Iman, pun Nika. Tapi mereka yakin, mereka sama-sama menang.
KemudianG ke penghulu *ehh*


Makassar, 26 Februari 2013—Nasrul Samad.

3 komentar:

  1. dehh -,- barusanku liat kepala sekolah yang begitu baiknya seperti dicerita ini. kalau di sekolah ku itu, langsung di usir mi:D

    ReplyDelete
  2. Hepi hepi... mirip sama kisah penulis? yakale

    ReplyDelete

Nah apa komentar anda?

Copyright © 2012 PRONITY All Right Reserved
Designed by YudhizUlb
Back To Top